Alt tag

Memilih Kontrasepsi yang Cocok, Tanpa Takut Jerawatan dan Jadi Gemuk

Semakin banyak perempuan modern yang mempertimbangkan penggunaan kontrasepsi setelah persalinan pertama. Alasan yang paling umum adalah untuk menunda kehamilan sehingga ada jarak antara kelahiran anak yang diinginkan.Perencanaan jumlah dan jarak usia anak ini menjadi penting karena menyangkut beragam aspek yaitu kesiapan psikologis ibu untuk memiliki lebih dari satu anak, kesehatan reproduksi, hingga kesejahteraan keluarga di masa depan.  Meskipun penggunaan kontrasepsi sudah tidak asing lagi, tapi masih banyak perempuan yang belum mengetahui jika saat ini telah tersedia berbagai macam kontrasepsi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan keinginan.

Para perempuan justru lebih banyak mendengar dari teman-temannya tentang kontrasepsi yang mereka gunakan. Akibatnya, para perempuan dibayangi dengan mitos atau ketakutan yang biasanya sukses menggagalkan rencana berkontrasepsi.Padahal, sebenarnya ada pilihan kontrasepsi lain yang tidak memerlukan tindakan medis, penggunaan nya lebih praktis, tetapi juga efektif mencegah kehamilan yaitu pil KB.Pil KB hanya perlu dikonsumsi secara oral dan risiko efek yang tidak diinginkan pada tubuh cenderung rendah. Jika sudah dikonsumsi dengan pola rutin sesuai anjuran, menurut laman web kesehatan SingleCare, pil KB terbukti efektif mencegah kehamilan.

 

Pil KB membuat gemuk dan berjerawat?

Kekhawatiran saat menggunakan pil KB bukan pada rasa sakit atau tindakan medis yang harus dilalui melainkan lebih kepada perubahan fisik. Oleh sebab pil KB mengandung hormon, banyak anggapan bahwa penggunaannya akan menimbulkan kegemukan dan jerawat.Pil KB sendiri dapat terdiri dari satu hormon yaitu progesteron. Ada juga yang mengkombinasikan dua hormon yaitu estrogen dan progestin (Pil KB Kombinasi).Pil KB yang seringkali menimbulkan jerawat adalah yang mengandung satu hormon atau berbasis androgenik.1

Jenis pil KB yang berbasis androgenik dapat memicu produksi minyak berlebih pada kulit  yang menyebabkan pori-pori tersumbat dan menyebabkan jerawat hormonal.Sedangkan, Pil KB modern dapat mencegah munculnya jerawat dan peningkatan berat badan. Memilih pil KB dengan kandungan bahan-bahan modern akan membuat kekhawatiran tersebut sirna.2

Dilansir dari Healthline, pil KB modern dengan kombinasi hormon estrogen dan progestin terbaru cenderung tidak memicu timbulnya jerawat. Pil KB modern yang diciptakan dengan kandungan Drospirenon  mampu mencegah jerawat dan kulit berminyak.Dilansir dari laman kesehatan NPS MedicineWise, Drospirenon merupakan progresteron baru yang memiliki sifat anti-androgenik dan anti-mineralokortikoid. Penjelasan mudahnya, anti-androgenik dalam Drospirenon memiliki efek menghambat aktivitas hormon androgen yang menimbulkan jerawat dan minyak pada wajah.2

Sebuah studi penelitian  menemukan jika penggunaan pil KB modern dengan Drospirenon mampu mengurangi jerawat sebanyak 62,5 persen selama sembilan siklus penggunaan, serta mengurangi produksi rambut di bibir atas dan dagu.Sedangkan anti mineralkortikoid pada pil KB dengan kandungan Drospirenon mampu menjaga berat badan agar tetap stabil.Hal ini dibuktikan dengan suatu studi penelitian yang menemukan Drospirenon dapat mencegah penumpukan cairan sehingga menjaga berat badan tetap stabil. Kandungan ini sekaligus meredakan sindrom pra menstruasi seperti mood swing dan kelelahan pada tubuh.Jadi, siapa bilang pakai KB tak bisa tetap cantik?  Dengan pil KB yang mengandung Drospirenon, perempuan dapat ber-KB cantik dan tetap langsing. (*)3

Bagikan

Sumber :

  1. Combined Pill. [Internet]. July 2020. Available from: https://www.nhs.uk/conditions/contraception/combined-contraceptive-pill/ . Terakhir diakses pada Mei 2021.
  2. Birth Control Pills Advantages and Disadvantages. [Internet]. March 2019. Availaber from : https://www.emedexpert.com/compare/birth-control-advantages.shtml . Terakhir diakses pada Mei 2021.
  3. The effect of 2 combined oral Contraceptives containing either drospirenone or cyproterone acetate on acne and seborrhea. [Internet]. April 2002. Available from : https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12096825/ . Terakhir diakses pada Mei 2021.